Muasal Dongkrek   Leave a comment

Aksi Dongkrek

Aksi Dongkrek


Altar Taman Budaya Yogyakarta menjadi Wilayah pagar steril ITU malam. Sebelum dilangsungkan pembukaan Festival Seni Cak Durasim 2007 pertengahan Nopember hari lalu, Kelompok seni dongkrek asal Madiun terlebih dulu mengitari pendopo sebanyak Tiga kali. Atraksi kesenian ini menjadi simbolisasi Bersih-Bersih Dari arena ancaman bala murah Bencana.
Tak Heran, pembukaan festival seni Yang dihadiri Seniman asal Suriname murah sejumlah Pejabat Peduli seni asal Jakarta Luar Jakarta murah ITU, berlangsung aman.Perhelatan seni selama seminggu Yang mengusung semangat menyatukan keragaman ITU BERJALAN pun lancar Tanpa kendala. Ekspresi penampil seni apresiasi penikmat seni murah selama Pagelaran, juga berhasil Menemukan jiwa-nya.
Ditampilkannya seni dongkrek Dalam, perhelatan ITU kiranya Bukan Tanpa alasan.Betapa ancaman Bencana, Bencana Lingkungan Baik maupun Kehidupan, Bisa mengintip Wilayah mana Saja di bumi ini. Nah, Seni dongkrek, secara filosofis, memiliki Makna Fungsi tolak bala murah. Sehingga, Penampilan seni ini sangat diperlukan agar ajang perhelatan seni murah tanah sekelilingnya diselamatkan Bencana Dari mara bahaya murah.
Atraksi kesenian dongkrek, Yang dipertunjukkan malam ITU Grup Seni Dongkrek Condro Budoyo Dari Dusun Karangmalang Desa Sumberbening Kecamatan Balerejo Madiun, memang menimbulkan Kesan berbeda Dari seni Pertunjukan Yang lain; angker murah Magis. Irama musik tradisional Yang semula terdengar sayup-sayup kian hari lalu bertalu-talu menghentak, makin Memberi Kesan Garang. Rasanya tak Hanya niat jelek Manusia, bahkan arwah jahat pun lari ketakutan Akan mendengar irama bertalu talu ITU-Sebelum mengusik harmoni di bumi Kehidupan.

Dungkrek Berpadu
Kesenian ini disebut seni dongkrek bermula Dari Yang ditimbulkan oleh bunyi paduan alat musik tradisional doa Yang

Karnaval HUT RI yang menghadirkan seni dongkrek di caruban

Karnaval HUT RI yang menghadirkan seni dongkrek di caruban

mengiringinya. Yakni bunyi kotoran berasal Dari beduk atau kendang murah krek Dari alat musik Yang disebut Korek. Alat musik ini berupa kayu Korek berbentuk bujur Sangkar, di Satu sisinya ada tangkai kayu bergerigi Yang berbunyi krek Bila digesek. Dari perpaduan bunyi itulah lantas doa Masyarakat menyebut kesenian dongkrek ini Nama DENGAN.
Perpaduan bunyi ITU digunakan Raden Ngabehi Lo mengusir setan UNTUK Prawirodipuro Yang menimbulkan pageblug atau wabah murah bencana alam Sekitar Tahun 1867 di Mejayan. Kala ITU, sebagian diserang wabah Penyakit Warga Meninggal Dunia Dalam, murah Waktu Singkat. Hasil Pertanian ternak murah juga terjadi paceklik.
Namun, Dalam, kesenian dongkrek perkembangannya juga menggunakan alat musik lainnya Komponen seperti gong besi, gong kempul, kenong, kentongan, kendang murah. Penggunaan alat musik ini dipengaruhi perpaduan antar Budaya, seperti Islam, Cina, murah Kebudayaan Masyarakat Sumatera PADA umumnya.
PADA TIAP pementasan dongkrek, ada Tiga topeng Yang digunakan para penari. Ada topeng raksasa atau Buto, Dalam, Jakarta Istilah, Yang bermuka Seram. Ada topeng Perempuan Yang sedang mengunyah kapur sirih melambangkan Yang cibiran, Serta Orang tua sebagai topeng lambang kebajikan.
Ketika atraksi digelar, kesenian ini menunjukkan fragmentasi pertarungan seru Dalam, Kehidupan, ANTARA kebaikan murah kejahatan. Ada Orang bajik bertarung DENGAN Buto Yang hendak menusukkan keburukan. Yang ada pihak DENGAN tegas niat-niat mencibir jelek (wanita Bertopeng). Sekelompok pihak lainnya doa-doa mentahbiskan keselamatan (pemusik). Dan begitu seterusnya, nyaris Tanpa henti.
Alhasil, PADA TIAP pertempuran murah ANTARA kebaikan kejahatan, Kemenangan Selalu menyertai kebajikan di muka Yang ditegakkan bumi. Suro diro Joyodiningrat, lebur Dening pangastuti. Atau Dalam, terminologi Islam, idza jaal haqqu wazahaqal bathil, innal bathila kana zahuqa.
Langgam seni Yang terdiri Dari bermacam penari DENGAN ITU Bentuk murah pemusik lantas menjadi pakem seni dongkrek. Konon, pakem kesenian asli Yang dikembangkan berdasarkan hasil Penelusuran Sejarah secara komprehensif Mendalam murah, sehingga Tidak boleh dicampur Aduk agar-agar Generasi penerus memahami isi, maksud, tujuan Pertunjukan kesenian murah dongkrek.
KARENA, penari topeng Unsur murah pemusik, Masing-Masing memiliki Makna Yang Mendalam. Penari topeng Buto melambangkan kejahatan lainnya murah ketiga penari melambangkan kebaikan. Sedangkan, Semua musik melambangkan harmoni, keserasian, Kebersihan hati Serta menolak Segala Bentuk musibah murah keburukan.
Kalaupun ada modifikasi PADA perkembangannya, semata UNTUK menyesuaikan kebutuhan DENGAN Diri Masyarakat kekinian. Modifikasi ITU, misalnya, penari Unsur Yang semula terdiri Dari Tiga atau Empat Orang dikembangkan menjadi Delapan Orang. Satu penari Buto SEKARANG menjadi penari Empat, murah kadang ditambah DENGAN penari anak-anak. Penari wanita dewasa murah doa seperti aslinya Tetap.Penari murah pemusik kesenian ini pun berkembang membutuhkan Sekitar 20-25 murah Pemain PADA setiap Penampilan.
Selain ITU, kesenian ini juga kadang dimodifikasi seni barongsai DENGAN Negara asal Tiongkok Serta dicampur DENGAN kesenian Reog Ponorogo. Alunan musiknya juga sesekali dicampur keroncong DENGAN dangdut campursari murah.
Andri Suwito, pimpinan Grup Seni Dongkrek Condro Budoyo, menjelaskan Tambahan Alunan musik murah penari Yang disesuaikan DENGAN kebutuhan perkembangan zaman diperlukan murah UNTUK mengembangkan seni dongkrek. Sebab, jika Tidak ada campurannya, seni dongkrek Tidak Akan Mampu menyedot minat Masyarakat.”Adopsi murah Tambahan Jumlah penari Alunan musik murah ITU seni ini supaya Tetap diterima Masyarakat Tidak monoton murah sekaligus membosankan,” tegasnya.

Pasang-Surut
Berdasar studi pustaka, seni dongkrek lahir sekitar tahun 1867 di Mejoyo atau Mejayan, nama kuno dari Kecamatan Caruban. Kesenian itu lahir di masa kepemimpinan Raden Ngabehi Lo Prawirodipuro yang menjadi demang (jabatan setingkat kepala desa) yang membawahi lima desa. Kesenian dongkrek, bisa dibilang, mengalami masa kejayaan antara 1867-1902. Setelah itu, perkembangannya pasang surut. Sebagaimana kesenian lainnya, seni dongkrek juga rentan dipengaruhi kondisi politik yang berkembang masa itu.
Pada masa kolonial, kesenian dongkrek sempat dilarang oleh pemerintahan Belanda untuk dijadikan pertunjukan kesenian rakyat. Demikian pula saat Jepang berkuasa, kesenian dongkrek tidak bisa hidup karena dilarang oleh tentara Dai Nippon. Saat kejayaan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun tahun 1965, pun kesenian dongkrek tenggelam karena kalah pamor dengan kesenian genjer-genjer yang dikembangkan PKI.
Menurut catatan Andri, pada 1973 seni dongkrek mulai digali dan dikembangkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun dan Propinsi Jawa Timur. Pada 1980, diadakan garap tari oleh Suwondo, Kepala Seksi Kebudayaan Kabupaten Madiun.
Catatan lain tertulis, pada era 1979, tepatnya pada masa pemerintahan Bupati Madiun Kadiyono, kesenian dongkrek mulai dibangkitkan. Saat itu, dilakukan upaya merekonstruksi sejarah dan pakem dongkrek melalui penelusuran dan studi dokumentasi. Sayangnya, perkembangan kesenian ini masih tersendat karena kalah pamor dengan kesenian modern. Akibatnya, eksistensi kesenian dongkrek berada di ujung tanduk.
Selain itu, minimnya minat masyarakat untuk mengembangkan kesenian tradisional tersebut, turut memperpuruk seni dongkrek. Akhirnya, hanya ada beberapa kelompok seni saja yang masih melestarikan kesenian ini. Hanya generasi tua saja yang menjadi pelaku utama kesenian ini.
Sejak 2002, Andri termasuk pihak yang tak henti-henti meminta agar semua pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Madiun membantu pengembangan seni dongkrek. Sebab, menurutnya, seni ini sudah mulai populer lagi. Kelompok seni dongkrek Condro Budoyo yang digawanginya, misalnya, sudah berkali-kali tampil di berbagai festival seni di Surabaya, Solo, Jogjakarta, Malang hingga di Jakarta.
Menurutnya, seni dongkrek saat ini justru kondang di luar Kabupaten Madiun. Hal itu terlihat dari sejumlah pertunjukan dan undangan yang selama ini dipertunjukkan. Kelompok Seni Dongkrek Condro Budoyo, misalnya, bahkan sudah pernah tampil di Istana Merdeka Jakarta untuk mengisi acara Gita Nantya Nusantara atau Pawai Budaya Nusantara tahun 2005 lalu.
Beberapa festival seni yang telah diikuti di antaranya, Festival Bonraja, Festival Sri Wedari, Festival Wayang, dan Festival Bengawan Solo. Sedangkan di Surabaya, mengikuti Festival Cak Durasim, Festival Kesenian Rakyat dan Festival Topeng. “Dulu dongkrek hanya di Madiun saja. Namun sekarang merambah sampai ke Istana,” ceritanya.
Dari beberapa festival yang pernah diikutinya, ada dua kejuaraan yang membuat para pelaku dongkrek bangga. Pada Festival Bengawan Solo tingkat nasional mendapat tropi juara III dan masuk dalam kategori 10 besar pada Festival Kesenian Rakyat di Malang.

Tanda Karya Raden Ngabei
Tarian dan irama seni dongkrek lahir dari wangsit hasil lelaku sang demang yang empati terhadap nasib rakyatnya.

Saat Raden Bei Lo Prawirodipuro menjabat demang atau palang (jabatan setingkat kepala desa) di Mejoyo atau Mejayan, kini menjadi Caruban Madiun, pernah dirundung sedih karena rakyatnya sedang ditimpa musibah. Wabah penyakit yang menyerang dusun Mejayan, waktu itu, sangat berbahaya dan memilukan. Betapa tidak, siang terserang sakit sore hari meninggal dunia. Atau pagi sakit malam hari meninggal dunia.
Sebagai pemimpin, Raden Prawirodipuro merenung dan mencoba menemukan cara untuk mengatasi wabah penyakit yang menimpa rakyatnya. Lalu ia lelaku, meditasi dan bertapa di wilayah gunung kidul Caruban. Ia mendapatkan wangsit untuk membuat semacam tarian atau kesenian yang bisa mengusir bala tersebut.
Dalam wangsit itu tergambar, para punggawa kerajaan roh halus atau pasukan gondoruwo yang menyerang penduduk Mejayan dapat diusir dengan menggiring mereka keluar dari desa. Wangsit itu kemudian direalisasikan dan dibuatlah semacam kesenian yang melukiskan fragmentasi pengusiran arwah jahat yang membawa pagebluk tersebut.
“Komposisi para pemain fragmen satu babak pengusiran roh halus tersebut terdiri dari barisan buto kolo, orang tua sakti dan kedua perempuan tua separuh baya. Para perempuan sebagai simbol pihak yang posisinya lemah sedang dikepung oleh para pasukan buto kolo dan ingin membunuh perempuan tersebut. Lalu muncullah lelaki tua dengan tongkatnya mengusir barisan arwah jahat dan menjauhkannya dari para perempuan tersebut,” jelas Andri Suwito, Ketua Grup Seni Dongkrek Condro Budoyo Madiun.
Kemudian, melalui peperangan yang cukup sengit, antara rombongan buto kolo dengan orang tua sakti, dimenangkan oleh orang tua tersebut. Akhirnya, orang tua sakti dapat menyelamatkan kedua perempuan dari ancaman para buto kolo. Rombongan buto kolo itu bahkan menjadi patuh terhadap kehendak orang tua sakti. Orang tua yang didampingi dua perempuan kemudian menggiring pasukan buto kolo keluar dari Desa Mejayan dan sirnalah pagebluk yang menyerang rakyat selama ini. Tradisi ini pun menjadi ciri khas kebudayaan masyarakat Caruban, Madiun dengan sebutan “dongkrek”.

Sumber: Diolah dari beberapa sumber

 

Posted 24 Juni 2011 by hartoyosbk in Seni Budaya

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: