Menyembuhkan Leukeumia Anak dengan Sedekah   Leave a comment

“Abi awalnya anak yang sehat. Tahun 2005 kaki Abi bengkak-bengkak seperti keseleo. Lalu saya bawa ke dokter dan dokter mengatakan bahwa Abi kena atritis (radang selaput sendi),” kisah wanita asal Bandung ini. Selama itulah Abi kemudian diterapi dengan obat-obatan radang selaput sendi.

November 2006, keluarga Diana berlebaran di Jambi, kampung halaman suaminya. “Di Jambi Abi akut lagi. Walaupun saya udah bawa obat-obatan dari bandung, tapi tetap saja kondisi Abi saat itu drop,” tukas ibu yang hingga saat ini berdomisili di Bandung beserta keluarganya ini.

“Pas malam takbir Abi bisa jalan, tapi masih pucat. Akhirnya saya putuskan untuk kembali ke Bandung dan konsultasi dengan dokter yang selama ini menangani atritis Abi,” ujar mantan pramugari yang sekarang membuka usaha salon di daerah Bandung ini. saat dokter memeriksa Abi, leukositnya turun dan dokter menemukan blast (sel-sel darah putih jahat) di darah putih Abi.

Disanalah Diana mendapati kenyataan bahwa tunggalnya divonis leukemia. “Anehnya saya masih bisa berdiri tegar saat dokter mengatakan ini. padahal sebelum saya ada ibu-ibu yang sampe guling-guling shock dengan vonis penyakit anaknya. saya hanya bertanya pada dokter, ‘tapi ka nada obatnya dok?’“ ujar Ibu kelahirang 2 Januri 1972 ini.

Saat itu dokter menjawab bahwa obatnya adalah kemoterapi. “Nah, saat mendengar kemo itulah saya goyah,” kenangnya. Di benak Diana kemo selalu berhubungan dengan rambut botak dan kulit gosong.

“Ternyata rambut botak dan kulit gosong itu adalah Cuma efek paling ringannya kemo,” tuturnya pahit. “Saya memutuskan menolak kemo. Saat itu saya pikir saya harus mencari alternative (pengobatan alternative, red) tapi jangan yang bertentangan dengan agama. Saya maunya yang pake logika aja. Misalnya anak saya kan bengkak-bengkak kakinya jadi jangan dipijit, jadi cari alternative yang misalnya mengalirkan energi,” ujarnya.

Dalam pencariannya Diana pun menemukan sebuah pengobatan alternative yang mengandalkan obat-obatan berupa suplemen di daerah Sukabumi. Merasa cocok dengan pengobatan ini, ia lalu memutuskan untuk serius mengobati sang buah hati disana.

“Awalnya cocok, tapi selang beberapa bulan kondisi Abi drop lagi. Sampe therapist disana bilang, ‘Bu, suplemen terbaik sudah saya berikan untuk Abi, mungkin jalan satu-satunya Abi harus kemo’,” tuturnya. Lagi-lagi untuk kedua kalinya Diana menolak kemoterapi. “Saya bilang waku itu ‘daripada kemo mendingan uangnya buat sedekah’” tuturnya.

Therapist disana terkejut dengan jawaban Diana. Ia lalu menganjurkan Diana untuk mendatangiUstad Yusuf Mansyur. Awal pencarian Diana pun dimulai. Ia mencari ustad Yusuf Mansur untuk terapi sedekah.

Tidak mudah menemui ustad yang saat itu sedang naik daun. Namun Diana tak kenal kata menyerah. Hingga kemudian, bertemulah ia dengan ustad muda yang terkenal dengan Wisata Hati-nya itu. Saat bertemu itulah Diana kemudian diminta untuk me-list dosa-dosa yang diperbuatnya.

“Berat juga sebetulnya mengingat itu semua. Tetapi ya itulah syarat yang harus dilakukan dalam terapi di wisata hati,” tukas Diana.

Di terapi itu juga Diana lalu memelajari beberapa ketentuan dalam bersedekah, salah satunya harus ada ijab kabul. Saat itu juga uang yang ia bawa langsung disedekahkan, “hanya menyisakan untuk bayar tol pulang aja,” kenangnya. Sebanyak satu juta rupiah ia ikhlaskan untuk bersedekah.

Sungguh keajaiban Tuhan! Karena tiga hari berselang ia mendapatkan kiriman uang dari seorang temannya di luar negeri, dengan jumlah cukup besar. “Kalau dirupiahkan dapet 10 juta,” kenangnya. Sejak itulah Diana bertekad untuk terus melakukan terapi sedekah.

Meski demikian, kondisi Abi rupanya malah terus memburuk. Hingga kemudian Diana mendatangi dokter yang sama pada saat semula Abi divonis leukeumia.

“Dokter sempat menyalahkan saya yang tidak mau menjalani kemo. Katanya waktu itu, coba sebulan yang lalu Abi dikemo, sekarang udah bisa lari-larian,” Meski begitu Diana tidak berkecil hati. Ia justru meyakini bahwa itulah jalan yang harus di tempuh Abi. Sungguh pun memang Abi kemudian harus di kemo, namun, Diana puas karena telah berusaha. Ia pun akhirnya menjalani keduanya. Kemo dan terus melakukan sedekah.

“Saya dengan hati yang lapang mulai sering sedekah. Saya lalu mulai sering sedekah dan bertambah keyakinan, sampe saya betul betul meyakini bahwa sedekah itu luar biasa,” tuturnya.

Keyakinan itulah yang mendorong Diana untuk semakin rajin bersedekah. Lagi-lagi sebuah keajaiban, penyakit Abi berangsur membaik. Bahkan menurutnya, suatu ketika ia mengikhlaskan communicator-nya untuk di sedekahkan dan setelah itu dokter menyatakan tidak ada blast sama sekali dalam tubuh Abi.

Meski saat ini Abi masih menjalani terapi kemo dan Diana masih melakukan terapi sedekah, namun, hal ini telah membuat Penerbit Mizan memintanya untuk menuliskan kisah tersebut. “Saya menolak awalnya karena pada Abi masih proses, namun, setelah saya berkonsultasi pada Ust. Yusuf Mansur, beliau bilang, sebaiknya saya tulis dan diniatkan untuk ibadah,” tuturnya.

Buku kisah nyata terapi sedekah cinta itu kini bisa di baca banyak orang. Diana berharap dengan menuliskan pengalamannya mengobati Abi dengan bersedekah bisa menginspirasi banyak orang tentang keajaiban sedekah. (yusuf mansur)
(Sumber tulisan : rozy.web.id)

Posted 12 Juli 2011 by hartoyosbk in Hikmah

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: