Kala Guru Besar Setan Memberi Pesan   Leave a comment

Seorang Guru Besar setan mengajar para setan pemula bagaimana mereka memalingkan manusia dari ajaran Tuhan. Berikut beberapa butir pesan Guru Besar itu:

Pertama, adalah suatu kekeliruan yang dilakukan oleh setan-setan pemula, ketika mereka menduga bahwa kegembiraan adalah jerat atau sarana setan menjerumuskan putra-putri Adam. Manusia masih tetap dapat berada dalam lingkungan Tuhan selama masih ada tempat dalam hatinya untuk kegembiraan. Kalian harus membedakan berbagai jenis kegembiraan itu dengan kegembiraan yang melahirkan hura-hura dan sesuatu yang tidak berguna. Yang inilah yang menjadi sasaran setan.

Kedua, tidak perlu memberi perhatian besar kepada mereka yang beragama ketika hati mereka dipenuhi keraguan akibat keraguan dan bencana yang terjadi. Seseorang yang beragama, yang kepercayaannya goyah karena krisis-krisis itu. Tidak harus dirayu dan digoda, ia akan terjerumus sendiri.

Ketiga, setan-setan pemula hendaknya jangan merasa sulit dan berputus asa menghadapi para penganjur kebajikan yang berbangga dengan diri mereka dihadapan orang lain. Sikap mereka itu sebenarnya telah mendekati apa yang diaharapkan oleh setan, bahkan sejak dini sifat demikian telah dapat melahirkan aneka hal yang didambakan setan.

Keempat, bukan tugas setan menyebarkan ateisme, karena siapa yang mengingkari wujud Tuhan, mengingkari pula wujud setan. Tugas setan kepada orang yang percaya adalah menghilangkan harapan mereka dan membiarkan mereka beribadah dengan menutup mata sehingga tidak melihat kebajikan mukjizat Tuhan yang tampak pada makhluk-Nya lagi terbentang luas pengaturan-pengaturan-Nya.

Kelima, jerat yang paling ampuh menjerumuskan manusia adalah ketika ia berpisah dari kondisi masa kini, dan sepenuhnya menuju masa depan. Yang demikian itu menjadikan ia terputus dari masa kini dan masa lalu, bergntung pada kebatilan, serta faktor-faktor keputusasaan dan kebencian.

Keenam, hendaklah setan pemula selalu mengingat, bahwa menanamkan kebencian adalah tugas pokok menyangkut isme-isme masa depan, tanpa harus memerhatikan nama-nama yang disandangnya. Tidak ada perbedaan antara komunisme, fasisme, eksistensialisme, dan sebagainya, selama jiwa manusia sepi dari rasa cinta serta dipenuhi oleh kebencian dan permusuhan.

Ketujuh, sukses dari segala sukses yang didambakan adalah pada saat manusia memandang alam raya itu kosong dari keajaiban, atau menilainya sebagai sekadar himpunan dari peristiwa-peristiwa biasa yang sama dan berulang-ulang.

Sumber: alifmagz.com

Posted 6 Agustus 2011 by hartoyosbk in Hikayat ramadhan

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: